Buku Kontroversial Menyebut Waria Boleh Jadi Imam Salat

Buku Kontroversial Menyebut Waria Boleh Jadi Imam Salat

Buku Kontroversial Menyebut Waria Boleh Jadi Imam Salat

Dunia pendidikan kembali dihebohkan dengan terbitnya buku kontroversial.

Kali ini beredar buku pelajaran yang isinya membolehkan waria menjadi imam salat.

Sebuah buku untuk siswa madrasah ibtidaiyah (sekolah dasar) itu mengajarkan tata cara salat yang dinilai menyalahi prinsip Islam. Isu tersebut mencuat setelah seorang ibu satu anak di Sumatera Utara, Rika Rahma Dewi, mem-posting salah satu halaman dari buku tersebut.

Buku yang dipakai sebagai bahan pelajaran di madrasah ibtidaiyah ini memperbolehkan waria sebagai imam salat. Lewat akun Facebook-nya, Rika mengatakan apa yang diajarkan buku tersebut tidak sesuai dengan ajaran Islam.

’’Allah menciptakan manusia itu laki-laki dan perempuan. Ini buku kok masukin kriteria waria.

Hati-hati Bunda, perhatikan waktu anak kita belajar,’’ tulis Rika.

Dalam buku tersebut, ditulis syarat menjadi imam adalah seorang laki-laki yang baik akhlaknya dan fasih dalam membaca Alquran. Kalimat selanjutnya ditulis orang yang diperbolehkan menjadi imam adalah laki-laki ketika seluruh ma’mumnya laki-laki dan perempuan. Kedua adalah perempuan ketika seluruh ma’mumnya perempuan dan waria ketika seluruh ma’mumnya perempuan.

Rika tidak menyebut judul bukunya. Namun, salah satu netizen berkomentar buku tersebut diperuntukkan siswa ibtidaiyah kelas dua. Postingan halaman tersebut direspons banyak netizen. Salah satu netizen, Firdaus Herliansyah, yang menyebut Islam memang mengenal istilah Khunsa. Namun, banyak orang salah kaprah dalam mengartikan hal tersebut.

’’Kalau khuntsa memang masuk dalam pembahasan kitab-kitab fiqih para ulama. Mungkin

ke depannya tim penerjemah buku harus lebih teliti lagi,’’ tulis Firdaus mengomentari postingan Rika.

Khunsa berarti hermafrodit atau berkelamin ganda. Memang ada makhluk ciptaan Allah yang berkelamin ganda atau sulit dibedakan alat kelaminnya. Sedangkan, waria adalah seorang laki-laki yang sengaja mengubah kelaminnya menjadi kelamin perempuan atau laki-laki yang berperan seolah-olah dirinya adalah perempuan.

’’Khuntsa itu dalam buku tersebut diterjemahkan waria. Padahal, sejatinya khuntsa itu bukan waria yang dibuat-buat seperti zaman sekarang ini,’’ komentar Firdaus.

 

Sumber :

https://blog.fe-saburai.ac.id/sejarah-gunung-krakatau/

About the author