SMPN 8 Solo Atasi Problem Limbah dengan Program “Simbah Diso”

SMPN 8 Solo Atasi Problem Limbah dengan Program “Simbah Diso”

SMPN 8 Solo Atasi Problem Limbah dengan Program “Simbah Diso”

SMP Negeri 8 Solo memiliki cara tersendiri untuk mengatasi persoalan limbah,

yakni dengan program “Limbah Diso”. Limbah Diso ini merupakan kepanjangan dari Sistem Implementasi dan Managemen Limbah Diperuntukkan Siswa dan Orang Tua.

Kepala SMPN 8 Solo, Triad Suparman, M.Pd menyatakan, limbah dan sampah bisa menjadi masalah apabila tidak dikelola dengan cara yang tepat. Namun bila dapat dikelola dengan baik, sampah akan memberikan manfaat.

“Kami mengelola sampah dengan program Limbah Diso ini,” jelas Triad Suparman

dalam rilis yang dikirim Ngateman, S.Pd dan Sri Suprapti selalu Humas-Publikasi ke Joglosemarnews.

Triad mencontohkan, limbah air wudlu dapat dimanfaatkan menjadi media kolam ikan dan aquaponik. Kolam ikan akan menghasilkan ikan dan aquaponik menghasilkan sayuran yang dapat dikonsumsi warga sekolah.
Baca Juga : LP3HI Giliran Menggugat Polda Jateng dan Desak Pencopotan Busroni

Sementara itu sampah organik diolah menjadi pupuk kompos. Pupuk kompos dapat di manfaatkan untuk tanaman di lingkungan sekolah. Selain itu juga menjadi sumber pemasukan baru bagi sekolah karena layak jual.

“Sedangkan sampah anorganik dapat diolah menjadi produk kreasi kerajinan tangan,

yang dapat digunakan untuk memperindah lingkungan kelas maupun sekolah,” ujarnya.
Baca Juga : Inovasi E- Money SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo Jadi Daya Pikat Studi Banding Forum Kepala Sekolah Bekasi

Produk kerajinan tangan itu juga dapat dipamerkan dalam event-event tertentu. Bahkan kalau produk tersebut berkualitas bagus, dapat menjadi sumber inovasi dan inspirasi masyarakat untuk dikembangkan menjadi produksi massal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Artinya, sekolah memiliki manfaat juga bagi masyarakat sekitar,” beber Triad.

Lebih jauh Triad menjelaskan, program Simbah Diso memiliki beberapa target output, di antaranya sekolah bisa menjadi tempat peserta didik belajar berkreasi dan berwirausaha dengan memanfaatkan potensi yang ada. Dampak akibat limbah dan sampah di lingkungan sekolah berkurang.
Baca Juga : Wanita Angkatan Udara Peringati HUT Ke-56 di Lanud Adi Soemarmo

Selain itu juga memberikan sumber pemasukan baru bagi sekolah, sehingga sekolah menjadi lebih berdaya dan menghasilkan lebih banyak hasil kerja yata.

“Dari limbah organik dicacah dan permentasi (ditambah bahan bakteri pengurai) menjadi pupuk sampah. Contohnya limbah plastik dimasukkan bank sampah dijadikan reuse (vas, bunga, daun, lampu lampion, kerikil plastik),” paparnya.

 

Sumber :

http://usgsprojects.org/kisah-syaikh-abdul-qadir-jailani/

About the author